Hai. Kali ini aku mau cerita. Let's talk about naruto. Hayo, siapa yang gak tau naruto? Yang gak tau silahkan mencari di google pasti ada. Dan kayaknya, di tv masih ada kalau gak salah di global tv (bukan promosi).
Nah, hari ini happy sunday :D. Tadi pagi aku berangkat taekwondo. Sampai di tempat latihan aku diberitau temenku kalau hari ini gaklatihan di dojang tapi ke kinahrejo. Aku kira mau lari latihan fisik kan medannya seru tuh. Ealah, ternyata hanya main2. Jalan, jalan, jalan, akhirnya sampai di rumahnya alm. mbah marijan. Disana, kami cerita-cerita, main-main, makan-makan, menurutku malah kayak piknik keluarga. Terus juga ada pembagian rapor hasil ujian kenaikan tingkat. Alhamdulillah lulus semua. Tapi sayangnya aku gak ikut :(
Puas ber-nananina, kami kembali turun. Shabum Susi (pelatih) mentraktir mie di warung Bu Panut. Di papannya sih tertulis "warung Bu Panut, putra pertama mbah marijan". Selesai makan, kami berbincang-bincang. Shabum Edi (pelatih) cerita tentang naruto. Shabum bilang suka sama naruto padahal naruto tidak lebih pintar dan gak lebih hebat dari teman-temannya. Tapi naruto itu punya semangat yang tinggi, gak mudah putus asa dan setia kawan. Naruto mau menyelamatkan sasuke padahal sasuke udah gak suka naruto.
Relevansinya :
Banyak anak ngincer nilai yang sempurna di sekolah, padahal sebetulnya nilai tidak memastikan anak itu sukses. Sukses atau tidak sukses-nya anak itu sebenarnya tergantung bagaimana semangat dan kerja keras anak itu mengambil karunia-Nya. Coba kita tengok 17 tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1994 ketika John Forbes Nash menerima hadiah nobel. John Forbes Nash mengidap penyakit schizophrenia yang membuatnya hidup dalam halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan hingga ia harus berjuang keras untuk sembuh. Dan perjuangan itu gak sia-sia (film a beutiful mind). Banyak lagi kisah-kisah ilmuan lain yang bisa menjadi inspirasi. Cari di google aja ;)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar