![]() |
Hai:) Hari ini aku ikut lomba MSQ di tingkat kabupaten. Berbekal pengarahan dari ibuku dan semangat dari beberapa temanku, aku berangkat. Mobil kijang milik pak guru mengantarkanku ke medan juang. Berdebar rasa hatiku. Namun, pak guru menyejukkan hatiku dengan nasihat dan pesannya. Tak lupa, paket ekstra semangat darinya cukup meyakinkanku.
Setelah mengikuti upacara pembukaan, aku dan kawan-kawanku masuk ke tempat cabang kami lomba. Kelompokku mendapat urutan yang ke-4 dari 4 peserta. Sungguh berdebar rasa hatiku. Dalam benakku aku bertanya pada diriku. Bagaimana jika nanti lupa naskahnya? Bagaimana jika aku sangat mengecewakan pak guru dan orang tuaku? Bagaimana jika aku membuat rata-rata nilai kelompokku jelek?
“Tapi itu semua hanya “bagaimana jika...”. Itu kalimat yang belum berfakta. Aku harus berfikir tentang kalau nanti kelompokku menang aku akan senang dan bersyukur. Kalau nanti aku kalah aku akan membuatnya menjadi suatu pengalaman yang sarat pelajaran agar bisa kupetik.”
Yah, memang aku berusaha untuk meyakinkan diriku dengan sepercik harapan. Namun, setelah melihat penampilan pertama aku ragu akan harapanku. Perasaanku menciut. Setelah itu, aku menyerah untuk meyakinkan diriku. Rasanya percuma.
Kami dipanggil. Aku dan kawan-kawanku maju. Kami menyampaikan dan menampilkan apa yang telah kami pelajari seminggu sebelumnya dengan pak guru. Memang seminggu ini kami berlatih dengan pak guru sepulang sekolah. Aku tak mau mengecewakan pak guru.
Saat kami tampil, pak guru melihat. Itu memberiku semangat agar aku harus lebih baik dari latihan terakhirku. Setelah aku tampil pak guru mengacungkan kedua jempol tangannya kepadaku dan itu membuat perasaanku membaik. Terimakasih pak.
Kami mengambil makan siang. Ayam bakarku sangat kunikmati. Perasaanku sewaktu lomba tadi menguras energiku. Setelah itu pak guru meninggalkan kami. Kulihat beliau berbincang dengan seorang ibu. Kami mennghampirinya. Pak guru mengenalkan ibu itu padaku. Ternyata beliau adalah ibu dari salah satu teman sekelasku.
Menunggu cukup membuatku mengantuk. Apalagi hiburan yang disajikan cukup meninabobokkanku. Akhirnya pemenang diumumkan. Kecewa hatiku mendengarnya. Setelah itu aku jadi merasa lelah.
Kami kembali ke sekolah. Sepanjang perjalanan pak guru memutar lagu-lagu kesayangannya. Ia berduet dengan lagu itu. Tak seberkas rasa kecewa terlihat di wajahnya. “Selamat tinggal kasihku yang tercinta. Doakan agar ku cepat kembali. Kuharapkan suratmu setiap minggu. Kan ku jadikan pembuluh rindu. Dst “. Salah satu lagu yang kukenal. Aku ikut menyanyi, tetapi di dalam hati. Aku tahu pak guru bermaksud untuk menhiburku. Terimakasih pak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar