"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya"
Kutipan itu tertulis di sampul belakang "Pulang", sebuah novel karya Tere Liye dengan tokoh utamanya Bujang alias Si Babi Hutan alias Agam. Bukan hanya Agam yang terpanggil pulang, aku pun merinding dan terpanggil. Definisi pulang yang awalnya kuangga sebatas pulang kampung, kini bermakna lebih dalam bagiku.
Pulang. Kata yang begitu menggoda. Bahkan aku yang belum resmi menjadi anak perantauan pun ikut dibuainya. Wajar jika setiap orang merindukan tempatnya berasal. Merindukan tempatnya mengukir kenangan dahulu. Merindukan sesuatu atau banyak hal yang dianggapnya rumah. Tapi bagaimana kita, seorang anak, dengan lancang mengeluh tentang kerinduan kita sedang bapak dan ibuk berkali kali memantapkan hatinya melepas kepergian kita dan tak henti mengadah tangan kepada-Nya untuk memasrahkan kita dan berharap tentang kebahagiaan kita. Sungguh, kelancanganku ini maafkanlah.
Tentang kerinduan, biarkan waktu akan memupuknya. Biar saat kupulang, kerinduan itu menjadi sebuah permata, hadiah bagi orang tercinta.
29.8.16
dh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar