Suatu pagi menjelang siang di hari yang raya, aku berbincang dengan teman sesama perantau. Pertama kukenalnya saat seleksi yang membuat kami merasa senasib saat itu. Kami bercakap tentang kebahagiaan yang kami sebut dengan "bersyukur".
Berada di tanah perantauan saat ini adalah anugerah besar yang Tuhan berikan kepadaku. Mimpi yang sebelumnya tak pernah kuanggap yakin kini mulai kurajut satu per satu. Dulu saat sebagian besar teman mantap menjawab cita-cita mereka, aku masih bingung berpikir. Cita-cita adalah pertanyaan sulit. Dan dalam kebingungan itu, aku mencari satu per satu jalan. Tes seleksi sebanyak mungkin kuikuti. Yang kuyakini pasti ada jalanku di salah satu instansi-instansi itu.
Perjalanan memang panjang. Tapi tak pernah terpikirkan aku sampai di sini. Prioritasku saat mengikuti seleksi tak pernah lebih besar dari saat mengikuti seleksi di instansi lain. Persiapan seleksi dan sebagainya tak pernah lebih matang dari persiapan saat seleksi di instansi lainnya.
Dan dari itu aku menjadi yakin,
bahwa Tuhan memilihkan jalanku disini,
memberiku kesempatan berjuang di sini.
Bertemu yang tak sama dalam nada bicara,
bertemu yang berbeda dalam budaya,
bertemu yang lain dalam presepsi,
membuatku sadar akan rajutan warna nyata di negeri ini.
Anugerah juga amanah ini bukanlah hal yang mudah. Inilah jalan yang ditunjukkan-Nya bagiku untuk mengabdi.
Yang kumengerti, bersyukur adalah satu-satunya cara untuk bahagia.
28.09.2016
dh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar